Kepulauan Sitaro Menetapkan Tanggap Darurat untuk Bencana
Daftar isi:
Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro di Sulawesi Utara baru-baru ini menjadi sorotan utama. Banjir bandang yang melanda wilayah tersebut mengakibatkan status tanggap darurat bencana ditetapkan, dengan fokus pada penanganan cepat dan efektif.
Pemerintah setempat, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengumumkan bahwa status tanggap darurat bencana hidrometeorologi berlaku selama 14 hari, terhitung dari 5 hingga 18 Januari 2026. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses penanganan di lapangan.
Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro Nomor 1/2026 menjadi dasar hukum untuk aplikasi status tanggap darurat ini. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merespons situasi darurat yang sedang dihadapi masyarakat.
Penyebab dan Dampak Banjir Bandang yang Melanda Wilayah Tersebut
Menurut informasi dari Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab utama banjir bandang ini. Hujan tersebut memicu meluapnya sungai dengan cepat, menyebabkan kerusakan yang masif di area sekitarnya.
Banjir bandang terjadi pada dini hari, tepatnya sekitar pukul 02.30 WITA, yang mengakibatkan dampak langsung terhadap empat kecamatan, yaitu Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Korban jiwa dan kerugian material menjadi perhatian utama pasca kejadian.
Data terbaru menunjukkan bahwa 16 orang dinyatakan meninggal, dengan tiga orang masih dalam pencarian. Tim gabungan masih berada di lapangan untuk mencari korban yang hilang dan memenuhi kebutuhan dasar bagi para pengungsi.
Kondisi Masyarakat dan Tindakan Evakuasi yang Dilakukan
Hingga saat ini, sebanyak 682 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Tim petugas gabungan terus mendampingi para pengungsi untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan mereka selama masa tanggap darurat ini. Layanan kesehatan juga diperhatikan, dengan sejumlah pasien menerima perawatan di puskesmas setempat.
Dari laporan yang diterima, sekitar 22 warga mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan medis. Dua di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Kota Manado untuk penanganan lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa bencana ini memiliki dampak yang cukup serius terhadap kesehatan masyarakat.
Nantinya, identifikasi terhadap para korban yang meninggal juga terus dilakukan untuk memberikan kepastian kepada keluarga dan masyarakat. Kejadian ini memang menimbulkan duka yang mendalam bagi warga yang terdampak.
Kerusakan Infrastruktur dan Upaya Pemulihan yang Diperlukan
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur juga menjadi masalah besar pasca bencana ini. Beberapa rumah dilaporkan hanyut, serta lebih dari 120 rumah lainnya mengalami kerusakan baik ringan maupun berat. Ini menunjukkan betapa parahnya dampak dari bencana ini terhadap tempat tinggal warga.
Akses jalan juga mengalami kerusakan yang signifikan, mempersulit mobilisasi bantuan dan tim penyelamat ke daerah-daerah yang mengalami dampak terburuk. Pemulihan infrastruktur ini akan memakan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Berbagai langkah pemulihan akan dilakukan setelah situasi stabil, termasuk perbaikan rumah dan infrastruktur yang rusak. Proses ini tentu saja tidak mudah dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now








