Antisipasi El Nino Setahun, Langkah yang Harus Diambil oleh Pemerintah
Daftar isi:
Pemerintah Indonesia diingatkan untuk bersiap menghadapi fenomena El Nino yang dapat mempengaruhi produksi pertanian, khususnya padi. Hal ini disampaikan oleh Andreas Santosa, seorang peneliti dari CORE Indonesia dan juga Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam sebuah forum diskusi yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta.
Dalam pernyataannya, Andreas menekankan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan perbedaan hasil antara tahun yang dipengaruhi oleh La Nina dan El Nino. La Nina seringkali membawa hasil panen yang melimpah, sedangkan El Nino berpotensi mengakibatkan penurunan produksi yang signifikan.
Andreas mengatakan bahwa El Nino diperkirakan akan terjadi selama satu tahun, dimulai dari pertengahan tahun 2026 hingga pertengahan tahun 2027. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat dampaknya terhadap ketahanan pangan nasional.
“Berdasarkan perhitungan dari berbagai lembaga internasional, kita dihadapkan pada risiko El Nino yang mulai terjadi pada bulan Juni atau Juli mendatang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa durasi fenomena ini bisa berlangsung hingga Juli tahun 2027.
Untuk mengantisipasi penurunan produksi beras yang diperkirakan mencapai lima persen, Andreas merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Pertama, perbaikan dalam tata kelola pangan perlu menjadi prioritas utama.
Strategi Menghadapi Dampak El Nino pada Pertanian
Pemerintah harus menyusun kebijakan berbasis data yang akurat dan relevan untuk mendukung perekonomian serta ketahanan pangan nasional. Ini termasuk analisis yang mendalam tentang produksi dan kebutuhan pasokan beras di seluruh Indonesia.
Pengumpulan dan pemantauan informasi cuaca yang valid juga menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam mengambil keputusan. Andreas menemukan bahwa terkadang terdapat perbedaan yang signifikan antara informasi yang disajikan oleh BMKG dan lembaga-lembaga internasional lain terkait kondisi cuaca dan iklim.
Dia mencatat bahwa dalam pernyataan terbarunya, BMKG menyatakan bahwa iklim pada tahun 2026 diprediksi akan baik dan normal. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan analissi yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional yang memperingatkan potensi El Nino.
“Situasi seperti ini bisa membingungkan, terutama ketika keputusan penting harus diambil berdasarkan data dan informasi yang tidak konsisten,” ungkapnya. Oleh karena itu, penting untuk mengedepankan transparansi dan akurasi dalam penyampaian informasi terkait perubahan iklim.
Melanjutkan pembahasannya, Andreas menyerukan pentingnya investasi dalam infrastruktur air yang efisien. Ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian, terutama di daerah pedesaan yang sering kali mengalami masalah akses terhadap air bersih dan irigasi yang memadai.
Pentingnya Infrastruktur dan Kesiapan Sumber Daya Air
Infrastruktur untuk pengelolaan air, seperti pompa dan sumur dalam, harus diperhatikan, terutama untuk wilayah yang jauh dari sumber air. Kesiapan dalam hal ini dapat mengurangi dampak negatif El Nino terhadap produksi pertanian.
Andreas menambahkan bahwa tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, upaya peningkatan produksi pangan akan sulit tercapai. Hal ini bisa mengakibatkan krisis pangan di berbagai daerah yang lebih rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Masyarakat juga harus dilibatkan dalam proses mitigasi dampak El Nino, agar mereka lebih sadar dan paham mengenai keadaan yang mungkin terjadi. Pendidikan tentang cara-cara mengelola lahan di tengah cuaca yang berubah harus diberikan agar petani bisa mengambil tindakan yang tepat.
Selain itu, program-program penyuluhan pertanian dan peningkatan kapasitas petani harus diperkuat. Ini bertujuan agar petani dapat beradaptasi dengan kondisi yang tidak menentu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin timbul.
Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, lembaga peneliti, dan masyarakat untuk menyusun strategi yang komprehensif dalam menghadapi fenomena ini. Kerja sama yang baik akan membantu menciptakan sistem yang lebih resilien terhadap perubahan iklim.
Menyusun Kebijakan Berbasis Fakta untuk Ketahanan Pangan
Pentingnya penyusunan kebijakan berbasis data tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga mencakup analisis terhadap kebutuhan konsumsi dan distribusi pangan. Ini termasuk juga perlunya sistem distribusi yang efisien untuk memastikan pasokan pangan tetap terjaga, meskipun terjadi penurunan produksi akibat El Nino.
Andreas menyarankan agar semua pihak terlibat dalam proses ini, mulai dari petani hingga pemangku kebijakan, dalam rangka menciptakan ketahanan pangan secara menyeluruh. Sinergi ini sangat diperlukan untuk menjawab tantangan yang semakin kompleks di masa depan.
Studi tentang dampak fenomena iklim harus terus dilakukan agar semua orang memiliki pemahaman yang sama. Melalui pendekatan yang berbasis data, diharapkan pemerintah dapat lebih efektif dalam melindungi sektor pertanian dan masyarakat yang bergantung pada hasil panen.
Dalam konteks ini, peranan teknologi juga sangat penting. Inovasi dalam pertanian dapat membantu meningkatkan produktivitas bahkan di tengah situasi yang sulit. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan dalam bidang ini harus didorong untuk memberikan solusi yang nyata bagi petani.
Akhirnya, menghadapi fenomena El Nino bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Seluruh elemen masyarakat diharapkan untuk bersatu dalam mengatasi tantangan ini demi masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now











