228 Keluarga Direlokasi dari Taman Nasional Tesso Nilo di Riau
Daftar isi:
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah memulai proses relokasi untuk warga yang tinggal di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Langkah ini merupakan bagian dari usaha penataan kawasan serta pemulihan ekosistem hutan konservasi. Pada tahap awal, sebanyak 228 kepala keluarga (KK) telah direlokasi dengan harapan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Relokasi ini direncanakan akan dilakukan ke area perhutanan sosial yang mencakup luas hingga 635,83 hektare. Program ini difokuskan di Desa Bagan Limau, Kabupaten Pelalawan, dengan target penataan seluas 2.569 hektare, mengingat pentingnya menjaga ekosistem yang ada.
Upaya Pemulihan Ekosistem Hutan Melalui Relokasi Masyarakat
Pada acara relokasi, Menhut Raja Antoni mengungkapkan rasa terima kasih kepada masyarakat Desa Bagan Limau. Ia menekankan bahwa dialog dan rekonsiliasi yang dilakukan adalah langkah untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Masyarakat diharapkan dapat menjadi contoh bagi kawasan lain dalam hal beradaptasi dengan perubahan.
Menhut mengatakan bahwa relokasi ini bukanlah tindakan agresif, melainkan upaya untuk memberikan kepastian hukum terhadap hak masyarakat. Dengan cara yang damai dan melalui komunikasi, diharapkan semua kendala dapat diselesaikan tanpa menimbulkan konflik.
Raja Juli menegaskan bahwa kegiatan ini adalah momen bahagia, bukan sebuah eksklusi. Dengan pendekatan persuasif, masyarakat yang relokasi kini memiliki kepastian hukum untuk mengelola lahan pertanian baru di luar taman nasional.
Pemerintah telah menyiapkan lahan pengganti di beberapa lokasi, seperti area eks PT PSJ di Desa Gondai dan kawasan eks PTPN di desa lainnya. Lahan-lahan ini memiliki total luas mencapai 882,12 hektare, yang diharapkan mampu memberikan kehidupan baru bagi masyarakat yang terdampak relokasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Kelompok masyarakat yang menerima Surat Keputusan (SK) Hijau di kawasan eks PT PSJ adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Gondai Prima Sejahtera yang terdiri dari 47 KK. Masyarakat di kawasan eks PTPN juga telah dibagi menjadi beberapa kelompok penerima SK, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung mereka dalam transisi ini.
Komitmen Pemerintah dalam Mendukung Masyarakat yang Direlokasi
Dalam proses relokasi, masyarakat telah diberikan SK Hutan Kemasyarakatan oleh Kementerian Kehutanan. Ini merupakan langkah penting untuk memastikan mereka memiliki akses terhadap lahan yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Rencana ke depan juga mencakup pemberian TORA (Tanah Objek Reformasi Agraria) dari Kementerian ATR/BPN, sehingga setiap keluarga akan mendapatkan sertifikat untuk lahan yang dikelola.
Kementerian Kehutanan berkomitmen untuk memfasilitasi proses transisi ini agar berjalan lancar dan tanpa hambatan. Pemberian TORA diharapkan memberikan jaminan kepada masyarakat untuk bisa menjalankan usaha pertanian yang legal dan berkelanjutan. Dampak positif ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh komunitas secara keseluruhan.
Pembangunan kepercayaan di antara masyarakat dan pemerintah juga menjadi salah satu fokus utama dalam proses ini. Diharapkan langkah-langkah transparan dan inklusif akan menciptakan rasa saling percaya di antara semua pihak, sehingga tercipta harmoni yang berkelanjutan di kawasan yang telah direlokasi.
Raja Juli mengajak masyarakat yang telah direlokasi untuk menjadi teladan bagi komunitas lain dalam beradaptasi terhadap situasi serupa. Momen ini menjadi simbol rekonsiliasi dan kehadiran negara dalam mendukung masyarakat. Dengan cara damai, semua pihak dapat mencapai tujuan yang lebih besar yaitu pemulihan lingkungan.
Acara peresmian juga diwarnai dengan penumbangan pohon sawit secara simbolis sebagai tanda dimulainya upaya pemulihan kawasan. Selain itu, penanaman bibit pohon Kulim dilakukan sebagai bagian dari restorasi ekosistem di Taman Nasional Tesso Nilo, mengindikasikan komitmen pemerintah terhadap perlindungan lingkungan.
Strategi Jangka Panjang untuk Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo
Pemerintah berencana untuk menanam sekitar 74 ribu bibit pohon sebagai bagian dari pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo secara berkelanjutan. Bibit-bibit yang akan ditanam ini mencakup berbagai jenis pohon, seperti Mahoni, Trembesi, dan Sengon. Ini semua dilakukan untuk mendukung biodiversitas dan menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.
Raja Juli menekankan bahwa tindakan restorasi ini bukan sekadar untuk mengembalikan fungsi hutan, tetapi juga untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah. Dengan kata lain, pemulihan ekosistem merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dipikul oleh semua pihak, termasuk masyarakat, pemerintah, dan organisasi lingkungan.
Dukungan terhadap masyarakat yang terdampak relokasi juga terus diberikan melalui pelatihan dan bantuan teknis untuk mengembangkan usaha pertanian yang berkelanjutan. Hal ini penting agar masyarakat dapat beradaptasi dengan cepat dan setidaknya terhindar dari ketergantungan terhadap lahan yang tidak berkelanjutan.
Rencana ini menunjukkan bahwa pemulihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Melalui kerjasama ini, diharapkan bisa terjalin ekosistem yang sehat dan komunitas yang mandiri. Semua pihak diharapkan mampu menjalani proses ini dengan semangat positif.
Kegiatan pemulihan ini menjadikan Taman Nasional sebagai lingkungan yang tidak hanya aman untuk flora dan fauna, tetapi juga nyaman bagi masyarakat. Dengan langkah-langkah yang diambil, diharapkan Taman Nasional dapat berfungsi dengan baik sebagai tempat konservasi sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now










