Masjid di Roma Jadi Pusat Sosial dan Ekonomi Menurut Arsjad dan JK
Daftar isi:
Baru-baru ini, sejumlah tokoh penting di Indonesia berkumpul dalam sebuah forum internasional yang diselenggarakan dengan tujuan membahas perdamaian serta pertumbuhan ekonomi. Acara tersebut menjadi ajang untuk menyuarakan pentingnya peran masjid dalam masyarakat, serta bagaimana ketimpangan ekonomi bisa menjadi pemicu konflik. Dalam konteks ini, pertemuan yang berlangsung di Roma, Italia, berhasil menarik perhatian banyak kalangan.
Forum ini menghadirkan tiga figur terkemuka, yaitu Arsjad Rasjid, Jusuf Kalla, dan Nasaruddin Umar, yang masing-masing memiliki sudut pandang unik mengenai peran ekonomis serta spiritual masjid. Dalam diskusinya, mereka sepakat bahwa perdamaian dan ekonomi yang berkeadaban harus menjadi fokus utama untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis. Konsep ini diharapkan bisa diimplementasikan secara global, terutama di negara-negara yang tengah berkonflik.
Arsjad Rasjid, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi Dewan Masjid Indonesia, mengungkapkan pandangannya terkait isu ini. Ia menegaskan bahwa tanpa adanya kemanusiaan dalam pertumbuhan ekonomi, keadaan sosial akan semakin rentan. Pandangan ini menjadi inti dari diskusinya dalam forum tersebut.
Pentingnya Kemanusiaan dalam Pembangunan Ekonomi
Arsjad menyatakan bahwa ketimpangan ekonomi yang terjadi saat ini bukan hanya berimbas pada keadilan sosial, tetapi juga menyeret masyarakat ke dalam konflik berkepanjangan. Ia mengatakan, “Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik tersembunyi,” menekankan perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dalam sistem ekonomi. Menurutnya, pendekatan seperti itu akan membantu menstabilkan kondisi sosial di berbagai belahan dunia.
Dia melanjutkan dengan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan nilai-nilai kemanusiaan tidak akan bertahan lama. “Ekonomi tidak hanya tentang angka, tetapi juga harus melibatkan aspek sosial yang adil,” tambahnya. Arsjad menegaskan bahwa untuk mencapai kemakmuran, masyarakat perlu menerapkan prinsip dasar kemanusiaan dalam setiap aspek kehidupan.
Dia juga menyampaikannya dengan mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis solidaritas sosial. Arsjad merekomendasikan agar dunia usaha berperan lebih aktif dalam menciptakan solusi bagi masalah-masalah kemanusiaan dan perdamaian global. Hal ini menunjukkan bahwa setiap elemen dalam masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.
Transformasi Masjid sebagai Pusat Ekonomi dan Pendidikan
Di kesempatan yang sama, Arsjad memperkenalkan inisiatif Dewan Masjid Indonesia untuk mengubah masjid menjadi pusat kewirausahaan dan pendidikan. Ia menggambarkan bagaimana masjid dapat berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai ruang bagi anak-anak muda untuk belajar keterampilan dan mengembangkan usaha. Konsep ini bisa menjadi model bagi masjid di seluruh dunia.
“Dengan mengubah masjid menjadi pusat ekonomi komunitas, kita bisa memberikan kesempatan kepada anak muda dan perempuan untuk berperan aktif dalam pembangunan ekonomi,” ujarnya. Ia percaya bahwa jika masyarakat menemukan makna dan tujuan dalam pekerjaan mereka, maka kedamaian akan muncul secara alami dalam hidup mereka.
Jusuf Kalla, yang juga memberi sambutan dalam forum ini, sepakat dengan pandangan Arsjad mengenai pentingnya peran masjid. Sebagai Wakil Presiden yang pernah menjabat, Kalla menegaskan bahwa masjid seharusnya menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. “Kita harus menjadikan masjid sebagai ruang sosial yang menumbuhkan moral dan solidaritas,” tegasnya.
Membangun Keberanian untuk Menciptakan Perdamaian
Dalam perkembangan diskusi, Kalla menekankan bahwa perdamaian tidak hanya sekadar ketiadaan perang. Dia menegaskan pentingnya keberanian untuk berdialog dan menjalin solidaritas di antara satu sama lain. “Perdamaian adalah ketika kita berani meletakkan senjata, baik fisik ataupun ideologis, untuk memilih keadilan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Kalla menyampaikan bahwa masjid memiliki kapasitas untuk menjadi tempat di mana nilai-nilai tersebut dapat dipupuk dan diperkuat. Ia berharap lebih banyak orang yang menyadari bahwa peran masjid dalam masyarakat sangat penting untuk menjaga harmoni sosial.
Narasumber lain, Nasaruddin Umar, juga memberikan pandangannya terkait isu ini. Ia mengungkapkan keprihatinannya tentang politisasi agama yang bisa membahayakan perdamaian. Ia menjelaskan bahwa ancaman bagi perdamaian bukanlah agama itu sendiri, melainkan penyalahgunaan ajaran agama untuk kepentingan pribadi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam menciptakan lingkungan yang damai.
Indonesia Sebagai Contoh Kerukunan dan Toleransi
Nasaruddin menekankan pentingnya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-alamin, atau rahmat bagi semesta alam. Ia berharap bahwa dunia bisa meneladani Indonesia sebagai contoh keberagaman yang harmonis, di mana umat beragama dapat hidup berdampingan dengan damai. “Kerukunan yang terjalin di Indonesia adalah warisan spiritual yang patut dibagikan kepada negara lain,” ujarnya dengan harapan yang besar.
International Meeting for Peace 2025 di Roma menjadi wadah untuk menjembatani komunikasi antar tokoh agama dan budaya. Forum ini dihadiri oleh ribuan partisipan yang berkomitmen untuk mencari jalan terbaik menciptakan perdamaian di tengah berbagai konflik yang meningkat. Tentu saja, inisiatif ini akan menjadi langkah awal yang kuat untuk menciptakan perubahan yang lebih positif di tingkat global.
Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang pentingnya peran masjid dan ekonomi berkeadaban, tetapi juga memperkuat ikatan antara berbagai elemen masyarakat. Harapan bahwa perdamaian bisa tercapai melalui dialog dan solidaritas menjadi pesan utama dari forum tersebut.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









