Pertanggungjawaban Hibah Keraton Solo
Daftar isi:
Menteri Kebudayaan baru-baru ini menekankan pentingnya pertanggungjawaban hibah yang diterima oleh Keraton Solo dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pusat. Menurutnya, komunikasi terkait hal ini masih sangat minim, dan diperlukan pengawasan lebih dalam implementasi program revitalisasi tersebut.
Keraton Solo, yang diakui sebagai kawasan cagar budaya nasional sejak 2017, membutuhkan penanggung jawab untuk memastikan perlindungan dan pengembangannya. Fadli Zon menegaskan bahwa perlunya peran aktif untuk menjaga warisan budaya yang ada di Indonesia.
Selama ini, plannya untuk merevitalisasi Keraton Solo telah berjalan, namun ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satu langkah yang sudah diambil adalah perbaikan Panggung Songgo Buwono yang telah selesai dilaksanakan dan diresmikan, sebagai tanda komitmen terhadap pelestarian situs budaya ini.
Peran Penting Hibah Dalam Revitalisasi Keraton Solo
Hibah yang diterima oleh Keraton Solo menjadi aspek penting dalam memastikan pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa yang kaya. Pemerintah daerah dan pusat telah berkontribusi melalui dana hibah, tetapi pertanggungjawaban atas penggunaan dana tersebut tidak boleh diabaikan.
Fadli menjelaskan bahwa hingga saat ini, ia belum mendengar adanya laporan resmi mengenai penggunaan hibah-hibah tersebut. Ini menimbulkan keprihatinan karena transparansi sangat penting dalam pengelolaan dana publik, apalagi untuk proyek yang berhubungan dengan warisan budaya.
Bagaimanapun, revitalisasi Keraton bukanlah hal yang bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kerjasama antara semua pihak, terutama keluarga besar yang terlibat dalam pengelolaan Keraton. Musyawarah menjadi sarana ideal untuk mencapai kesepakatan dalam pengelolaan cagar budaya ini.
Tantangan Dalam Proses Revitalisasi Keraton
Proyek revitalisasi Keraton Solo tidak berjalan mulus, ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah permasalahan internal antara pihak yang mengklaim hak atas kepemimpinan di Keraton.
Fadli menyebutkan bahwa dialog mulai dilakukan antara pihak-pihak yang berselisih, namun tidak semua pihak menunjukkan itikad baik. Salah satu dari pihak yang berselisih hadir dalam pertemuan tersebut, sedangkan pihak lainnya menolak untuk berpartisipasi dengan alasan administratif.
Minimnya komunikasi antara pihak-pihak yang berselisih ini bisa menghambat proses revitalisasi. Pemerintah terus berusaha untuk menengahi situasi tersebut agar semua pemangku kepentingan bisa memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka.
Strategi Membangun Kesepakatan Antar Pihak Berselisih
Fadli percaya bahwa penunjukan Panembahan Agung Tedjowulan bisa menjadi solusi untuk meredakan ketegangan di antara pihak-pihak yang terlibat. Ia diharapkan mampu mengayomi dan menyatukan keluarga besar Keraton dalam upaya mencapai kesepakatan.
Pertemuan yang melibatkan semua pihak dianggap sebagai langkah awal yang baik untuk meredakan konflik yang ada. Dengan demikian, dialog yang konstruktif bisa maju bersama proses revitalisasi yang sangat diperlukan.
Fadli mencatat kondisi fisik Keraton yang memprihatinkan memerlukan perhatian serius. Banyak bagian dari bangunan yang tidak terawat, serta adanya ruang-ruang kosong yang tidak dimanfaatkan dengan baik.
Harapannya, dengan kerjasama dan komitmen dari semua pihak, kekayaan budaya yang ada di Keraton Solo bisa dipertahankan dan dikembangkan dengan baik. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung upaya revitalisasi cagar budaya ini agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now








