Tubuh Bereaksi Saat Mimpi, Kenali Fenomena REM Sleep Behavior Disorder
Daftar isi:
Pernahkah kamu merasa terbangun tiba-tiba setelah terjatuh dari tempat tidur atau mulai melampaui batas mimpi yang terasa nyata? Bagi sebagian orang yang mengalami REM Sleep Behavior Disorder (RBD), pengalaman traumatis ini bukan sekadar bagian dari mimpi tetapi suatu kondisi yang dapat menyebabkan kebangkitan mendadak saat tidur.
Gangguan ini dapat menjadikan waktu tidur sebagai momen yang penuh ketegangan dan risiko. Saat mimpinya terasa agresif, individu dengan RBD mungkin terlibat dalam tindakan berbahaya yang berpotensi melukai diri mereka sendiri atau pasangan tidur mereka.
Mengacu kepada berbagai studi yang ada, RBD merupakan bagian dari kelompok parasomnia, yang terdiri dari perilaku tidak normal selama tidur, khususnya pada fase REM. Fase ini adalah saat otak paling aktif dan mimpi terjadi paling sering.
Pengertian dan Ciri-ciri REM Sleep Behavior Disorder
REM Sleep Behavior Disorder atau RBD adalah gangguan tidur yang ditandai dengan perilaku aktif saat seseorang masih tertidur. Penderita RBD tidak dapat merasakan kontrol atas tubuhnya saat berhadapan dengan mimpi.
Selama fase REM, seharusnya tubuh mengalami kelumpuhan otot sementara, tapi pada RBD, hal ini tidak terjadi. Akibatnya, individu tersebut dapat melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, seperti menendang atau melompati tempat tidur.
Statistik menunjukkan bahwa RBD lebih umum terjadi pada pria, terutama mereka yang sudah berusia lanjut. Namun, bukan tidak mungkin juga terjadi pada wanita atau orang-orang yang lebih muda.
Risiko yang Mengintai Penderita RBD dan Pasangan Tidur
Salah satu aspek yang paling memprihatinkan dari RBD adalah potensi cedera. Ketika seseorang yang mengalami gangguan ini terjerat dalam mimpi yang penuh aksi, mereka mungkin tidak menyadari perilaku berbahaya yang sedang mereka lakukan.
Beberapa tindakan yang umum terjadi adalah tendangan keras atau gerakan tiba-tiba yang dapat melukai diri atau pasangan di samping mereka. Dalam banyak kasus, pasangan tidur adalah yang pertama melaporkan perilaku ini, menceritakan bagaimana mereka terbangun oleh suara atau gerakan mendramatisasi.
Di lain waktu, tindakan tersebut dapat menjurus ke insiden yang lebih serius. Dalam beberapa kasus, individu tidak hanya terluka, tetapi juga bisa menyebabkan cedera pada orang lain. Ini menunjukkan pentingnya pemahaman tentang RBD bagi pasangan dan keluarga.
Penyebab dan Faktor Risiko Terjadinya RBD
Meski penyebab pasti dari RBD masih menjadi misteri, penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini dapat terkait dengan beberapa kondisi medis. Misalnya, RBD sering dijumpai pada orang yang memiliki penyakit Parkinson atau demensia.
Faktor risiko lainnya termasuk usia lanjut, komorbiditas seperti gangguan neurologis, serta efek samping dari beberapa obat. Mengidentifikasi gejala yang muncul dapat membantu dalam proses diagnosis dan penanganan.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin berperan dalam perkembangan RBD. Jika seseorang dalam keluarga memiliki riwayat gangguan ini, maka risiko untuk mengalaminya juga dapat meningkat.
Pengelolaan dan Perawatan RBD yang Efektif
Menemukan cara untuk mengelola RBD adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas tidur bagi penderita dan pasangan mereka. Pengobatan yang efektif dapat bervariasi, tetapi sering kali melibatkan penggunaan obat-obatan untuk menekan perilaku motorik selama tidur.
Selain pengobatan, teknik relaksasi sebelum tidur dapat membantu mengurangi frekuensi serangan RBD. Melakukan yoga atau meditasi dapat menjadi alternatif yang baik.
Penting juga untuk menjaga lingkungan tidur yang aman. Menghilangkan objek tajam di sekitar tempat tidur dan menjamin adanya ruang yang cukup dapat membantu mengurangi risiko cedera selama serangan tidur.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









